Nama aslinya adalah Syaikh Ahmed Abdul Mu’thi Ramadhan Al-Musayyir. Lahir di negeri piramida Mesir tahun 1966. Keberadaannya di Indonesia atas kerjasama Kementerian Agama (Kemenag) Republik Indonesia (RI) dengan pihak Universitas Al-Azhar Mesir untuk penyebaran dai dan guru Bahasa Arab dan ulumuddin.

Sebanyak 29 syaikh yang disebar ke seluruh lembaga pendidikan Islam di Indonesia. Ada di perguruan tinggi, madrasah, hingga pondok pesantren. Program kerjasama ini akan berjalan selama tiga tahun (2017-2020), dengan misi sebagai dai dan guru.

Salah satu yang mendapat jatah syaikh dari Mesir adalah Pondok Pesantren Hidayatullah Batam. Sehingga, keberadaannya di lembaga milik Ormas Hidayatullah ini menjadi kabar gembira bagi segenap pengurus lembaga, tenaga kependidikan, dan seluruh santri dan mahasiswa.

Hal itu diungkapkan oleh Ketua Yayasan Pondok Pesantren Hidayatullah Batam, Ustadz Jamaluddin Nur. Ia menyatakan kegembiraannya atas diberikannya jatah syaikh bagi lembaga yang dipimpinnya.

Sebab, lanjut Jamal, tidak mudah untuk mendapatkan seorang dai dan guru, yang berasal dari Universitas al-Azhar Kairo. Ribuan lembaga pendidikan Islam di Indonesia, tapi tidak semua dapat karena terbatas. Salah satu yang mendapat jatah itu adalah Pondok Pesantren Hidayatullah Batam.

Alhamdulillah ya, lembaga kami, atas rekomendasi Kemenag RI, akhirnya dapat jatah seorang syaikh dari al-Azhar untuk mengajar Bahasa Arab dan al-Qur’an disini”, ucap Jamal.

“Tentu ini semua adalah karunia Allah yang patut disyukuri oleh semua pihak, khususnya santri dan mahasiswa. Mereka langsung belajar Bahasa Arab dari orang Arab asli”, pungkas Jamal menutup.

Dengan keberadaan syaikh di kampus ini, diharap dapat menjadi magnet bagi jamaah seluruhnya. Sebab, secara tidak langsung mereka termotivasi untuk terbiasa bercakap Bahasa Arab dengannya. Belum lagi jadwal mengajar yang diberikan oleh unit pendidikan. SMP, SMA, Ma’had Tahfizh, hingga Pendidikan Tinggi, semua memanfaatkan keberadaan beliau agar mengajar Bahasa Arab dan ulumuddin.

Di Pondok Pesantren Hidayatullah Batam, Syaikh Ahmed, demikian biasa ia disapa, tinggal di Kampus 2 Hidayatullah Tanjung Uncang. Di Kampus khusus putri ini, ia menempati sebuah rumah yang telah disediakan oleh yayasan. Untuk memudahkan urusan teknis dan akomodasinya, ia ditemani Muhammad Irsyad, mahasiswa STIT Hidayatullah Batam semester lima.

Secara rutin ia mengimami warga dan santri shalat berjamaah di masjid. Usai shalat, terkadang memberikan taushiyah singkat kepada jama’ah. Tiap Hari Kamis sebelum dhuhur, mengisi kajian tafsir juz 30 kepada seluruh santri putri. Hari Jum’at pagi kuliah bersama mahasiswi di Gedung Asia Raya dengan materi fiqh.

Di Kampus Utama Hidayatullah Batu Aji, secara rutin mengisi kajian motivasi kepada seluruh santri tiap senin dan kamis sore. Dua kali sebulan, selalu terjadwal khutbah jumat di Masjid Agung Hidayatullah. Tidak hanya kepada santri, para guru dan tenaga kependidikan pun turut serta belajar kepadanya. Tidak jarang ia mengisi halaqah gabungan seluruh karyawan yayasan yang diadakan tiap akhir bulan.

Untuk Kampus 3 Hidayatullah Marina, tiap Selasa pagi masuk mengisi kuliah bersama mahasiswa tentang al-Qur’an.

Menurut Azhari, seorang warga yang selalu mendampinginya saat ceramah atau khutbah, bahwa kepribadian syaikh itu sungguh menarik. Ia zuhud. Ia juga sabar. Tidak mudah bagi seseorang itu untuk jauh dari keluarga. Ia juga selalu menjaga waktu shalat untuk mengimami warga dan santri.

Syaikh Ahmed, lanjut Azhari, sejak umur 10 tahun sudah hafal al-Qur’an. Ia juga lulus sarjana dari Universitas al-Azhar Kairo, jurusan Bahasa Arab dan al-Qur’an.

Syaikh Ahmed memiliki seorang istri, dan telah dikaruniakan tiga anak, dan seorang cucu. Demi amanah dakwah, ia rela meninggalkan keluarganya di Mesir untuk mengajarkan ilmu di Bumi Nusantara ini. (admin)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here