Selasa (29/5/2018), bertepatan tanggal 13 Ramadhan 1439 H, Saya bersama seorang rekan, yaitu Mas Idris, diberi amanah berangkat menuju Kabupaten Kepulauan Anambas (KKA), untuk melaksanakan tugas Safari Ramadhan sekaligus menyeleksi calon mahasiswa baru STIT Hidayatullah Batam beasiswa Pemerintah Dinas Pendidikan, Pemuda dan Olahraga Kabupaten Kepulauan Anambas.

Pukul 09.00 WIB, kami bertolak dari Pelabuhan Telaga Punggur, Batam, menggunakan speedboat ukuran sedang (kapasistas 150an penumpang), menuju ke wilayah utara salah satu kepulauan terluar NKRI ini. Perjalanan ditempuh selama kurang lebih delapan jam dengan kecepatan sedang dan tinggi, artinya laju kapal di atas rata-rata. Padahal, jarak tempuh menuju ke Singapura dan Malaysia hanya butuh waktu 45 menit saja, itupun dengan kecepatan rendah dan sedang. Jauh nian kan!

Sepanjang perjalanan, kami hanya menyaksikan hamparan luas laut biru Perairan Indonesia, bahkan menyusuri Perairan Laut China Selatan. Kami juga disuguhi pemandangan indah nan elok jejaran pulau-pulau semenanjung Kepulauan Riau. Berserak dan menghambur bagai serpihan mozaik, maha karya  Ilahi tak tertandingkan. Sungguh, pesona alam yang masih sangat alami. Subhanallah.

Pukul 17.00 WIB kurang, kami tiba di tujuan, yaitu Pulau Tarempa, Ibukota dari Kabupaten Kepulauan Anambas. Kata masyarakat setempat, kalau musim selatan, ombaknya tiga sampai lima meter. Tak ada orang yang melaut. Tak ada kapal yang berlabuh, termasuk Pelni dan kapal besar lainnya. Perekonomian lumpuh. Aktifitas masyarakat terhenti. Nah, Tarempa inilah pusat pemerintahan, ekonomi, dan peradaban masyarakat Anambas.

Tubuh yang lemas akibat seharian berada di atas kapal, ditambah kondisi sedang berpuasa, sirna begitu saja saat menyaksikan pemandangan alam Pulau Tarempa; pulau pulau yang berbukit, keramahan masyarakat, sambutan yang begitu hangat dan bersahabat, suasana menjelang berbuka yang syahdu dengan kuliner khas setempat, hingga momen terbenamnya matahari dengan semburat sinar jingga menghias angkasa. The sunset is perfect. Amazing.

Kami, oleh Pemerintah setempat, ditempatkan di Terempak Beach Hotel and Residence. Sebab, selain safari dakwah, tugas kami adalah menyeleksi calon mahasiswa baru, beasiswa Pemerintah Daerah Dinas Pendidikan, Pemuda, dan Olahraga Kabupaten Kepulauan Anambas untuk kuliah di STIT Hidayatullah Batam. Jadi, para pelajar putra daerah dibiayai oleh pemerintah untuk kuliah di Kampus Hidayatullah. Sebuah kerjasama yang sangat baik dan efektif.

Ini tentu tidak lepas kebijakan Pak Bupati, Bapak Abdul Haris, S.H, yang berjasa mengakomodir kerjasama ini. Beliau punya ikatan emosional yang kuat dengan Kampus Hidayatullah Batam. Alhamdulillah. Semoga Allah membalas seluruh kebaikan-kebaikan beliau dengan ganjaran yang setimpal. Aamiin.

Untuk dakwah, alhamdulillah, tahun ini juga sudah ada da’i yang ditugaskan merintis Kampus Hidayatullah Anambas, yaitu Ustadz Luqman Banfatin dan Ustadz Amanuddin, keduanya adalah alumni STIT Hidayatullah Batam. Dan kini telah ada tanah wakaf dari pemerintah untuk awal pendirian Kampus Hidayatullah Anambas.

Keberadaan kami di Anambas juga selalu ditemani oleh mereka berdua. Menyusuri kampung-kampung masyarakat setempat untuk berdakwah, ceramah, mengisi kajian-kajian, dan bersilaturahim dengan para tokoh, pemerintah, dan lain-lain.

Inilah sekelumit catatan perjalanan kami di wilayah kepulauan yang berada di selatan Negara Vietnam ini. Yang harga setumpuk/sekilo cumi-cumi atau seekor kakap merahnya (karna tidak pakai timbangan), lebih murah dari lima butir tomat. Yang sekabupaten Anambas, jumlah kendaraan roda empatnya tidak lebih dari sepuluh buah. (ditulis Azhari)

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here