Kolom MahasiswaTerbaru

Generasi yang Salah Pergaulan

Siapa yang tidak kenal dengan istilah generasi yang menjadi aset suatu bangsa. Katanya dijadikan sebagai putra mahkota bangsa. Para ahli juga mengatakan jika ingin menghancurkan suatu bangsa maka hancurkan pemikiran anak bangsanya. Lalu bagaimana sih kondisi generasi muda kita sekarang terutama generasi muslim?

Realitanya generasi sekarang sudah sangat parah dan menjadi-jadi sangat berbeda dengan zaman dahulu. Untuk teknologi memang keren dan maju sekarang ini. Namun masalah gaya hidup, moral dan akhlak, sudah sangat bergeser, terseret arus globalisasi dan budaya luar yang berasal dari kaum kafir.

Hidup tanpa aturan, pergaulan bebas dan mereka menjunjung tinggi itu atas nama hak asasi manusia. Padahal, sejatinya itu sebuah racun yang dikemas dengan manis dan menggoda oleh kaum liberal.

Lalu siapa diharapkan untuk kemajuan suatu bangsa jika kondisi generasi seperti itu.

Generasi muslim. Masih ada generasi muslim yang tidak terjebak dengan pengaruh budaya luar. Mereka ada yang konsen belajar mendalami Islam dan syariat-syariatnya di pesantren dan di lembaga dakwah, agat kelak dapat menyebarkan dakwah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam.

Juga ada wadah organisasi atau lembaga dakwah yang sangat membantu dalam menggerakan perubahan dan sekaligus terlibat aktif dalam penyebaran ilmu agama. Seperti aktivis Lembaga Dakwah Kampus (LDK), mondok jadi santri, anak rohis, remaja masjid dan lain-lain yang turut belajar Islam dan mendalaminya.

Mereka ini memperjuangkan islam dan menjaga nilai-nilai islam dalam kehidupan sehari-hari. Namun yang menjadi pusat pemerhatian kita lebih dalam ialah apakah generasi muslim tersebut sudah menjalankan amar ma’ruf nahi mungkar sesungguhnya?

Tapi muncul satu fenomena yang kurang bagus. Mereka adalah ikon generasi muslim yang berilmu dan berwawasan peradaban, pada kenyataannya sebagian terjebak pada pergaulan yang jauh dari kata islami. Ada berpacaran di organisasinya berada. Campur baur antara laki-laki dan perempuan, sedangkan Islam jelas menentang hal ini.

Sungguh aneh jika kita dapat di musholah yang memisahkan antara laki-laki dan perempuan tapi keluar dari tempat itu nggak ada batasan lagi, dan juga di suatu pesantren dan lembaga dakwah yang sudah mampu memisahkan akhwat dan ikhwan dari pergaulan ataupun dari lirik melirik namun masih saja itu hanya sebatas di tempat itu saja tetapi masih saja kita dapati diluar seakan pembatas itu tidak membekas dihatinya namun hanya sebuah penjara yang merindukan kebebasan sesaat (tapi ini hanya sebagian nya saja).

Lalu bagaimana hakikatnya pendidikan islam yang telah mereka pelajari.

Nasehat berharga dari Mu’adz bin Jabal untuk generasi muslim di atas:

“Pelajarilah ilmu, mempelajari ilmu karena Allah itu mencerminkan ketaatan, mencarinya adalah Jihad, mengkajinya adalah tasbih, mengajarkannya adalah sedekah. Dan membelanjakannya untuk keluarga adalah taqarrub. Ilmu adalah pendamping saat sendirian dan teman karib saat menyepi”

“Allah memberikan dunia pada yang Dia cintai dan yang Dia benci. Tetapi Dia tidak memberikan kesadaraan beragama, kecuali kepada yang Dia cintai. Maka barangsiapa diberikan kesadaraan beragama oleh Allah berarti ia di cintai oleh- Nya.” (HR. Ahmad, al Hakim dan Al- Baihaqi)

Maka pentingnya bagi generasi muslim dalam mentadaburi lebih mengenai ajaran islam bukan hanya sekedar teori belakang sebab orang kafir pun juga mampu menguasainya. Tapi lebih kepada penerapan dalam kehidupan sehari-hari, demi tegaknya peradaban Islam. Wallahu A’lam Bishawab

Rindiyani Pangestuti, Dept. Pengembangan Literasi DEMA Putri

Show More

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Close
Close
×

Assalamu'alaikum.

Tanyakan sesuatu tentang STIT Hidayatullah Batam.

× Tanyakan Tentang Kami