BeritaTerbaru

Prof Arskal Salim Orasi Ilmiah Sidang Senat Terbuka STIT Hidayatullah Batam

BATAM (Hidayatullah.or.id) — Sekolah Tinggi Ilmu Tarbiyah (STIT) Hidayatullah Batam menggelar Sidang Senat Terbuka Wisuda Sarjana Strata Satu (S1) angkatan pertama yang digelar di Hallroom Pusat Informasi Haji (PIH), Batam Center, Kota Batam, Kepulauan Riau, Selasa, 26 Dzulqa’dah 1442 H (6/7/2021).

Hadir secara online memberi orasi ilmiah Prof. Dr. M. Arskal Salim GP, M.Ag, Kepala Pusat Penelitian dan Pengembangan Lektur, Khazanah Keagamaan, dan Manajemen Organisasi, Balitbang-Diklat, Kementerian Agama RI.

Orasi ilmiah Guru Besar Ilmu Politik Hukum Islam ini (Shiyasah Syar’iyyah) ini mengangkat tema “Megatren Dunia: Peluang dan Tantangan, dan Solusinya”.

Prof Arskal, demikian ia disapa, menyebut sejumlah fenomena dunia yang diperkirakan akan terjadi. Misalnya tentang demografi global. Katanya, pada tahun 2045, penduudk dunia diperkirakan 9,45 miliar bertambah 2,1 miliar dari tahun 2015.

Beliau menyebutkan, lebih dari separuh pertumbuhan penduduk dunia disumbang oleh kawasan Afrika, tapi Asia dan Amerika Latin akan memiliki jumlah middle dan upper income class terbesar, sehingga tren demografi global mendorong urbanisasi, arus migrasi, dan penduduk usia lanjut.

“Maka penduduk dunia di perkotaan diperkirakan meningkat menjadi 65 persen, dengan 95 persen pertambahan terjadi di emerging economies. Sehingga pembangunan perkotaan berperan dalam meningkatkan daya saing , pertumbuhan ekonomi, dan kualitas hidup masyarakat,” papar Guru Besar UIN Jakarta ini.

Emerging economies, lanjut Arskal, akan berperan terhadap investasi SDM, infrastruktur, reformasi struktural, dan iklim usaha yang mendorong pertumbuhan ekonomi yang tinggi, berdaya saing, dan kerkesinambungan.

“Otomatis, perubahan teknologi ke depan didominasi oleh teknologi informasi dan komunikasi, bioteknologi, dan rekayasa genetik, kesehatan dan pengobatan, energi terbarukan, wearable decives, otomatisasi dan robotik, serta artificial intelligence,” imbuhnya.

Begitu pula tren perdagangan dan keuangan internasional, katanya lebih lanjut, negara berkembang menjadi poros perdagangan dan investasi dunia dengan pertumbuhan 6 persen pertahun. Perdagangan intra Asia meningkat dan investasi asing langsung ke dan antar negara berkembang berlanjut.

“Demikian halnya dominasi mata uang dunia bergeser dari dolar AS menjadi multi currencies. Aset keuangan emerging economies tahun 2050 diperkirakan melebihi negara maju. Cina berkembang sebagai salah satu sumber keuangan bagi pembangunan mendatang,” ungkap alumnus Universitas Melbourne ini.

Hal lain, papar Arskal lebih jauh, perubahan iklim dan geopolitik. Adanya tantangan pemanasan global semakin besar, baik berupa kejadian ekstrim maupun perubahan iklim jangka panjang. Tanpa usaha menurunkan emisi, rata-rata suhu global akan meningkat 3-3,5 derajat celcius pada akhir abad ini.

“Geopolitik juga terus berlanjut dengan meningkatnya peranan Cina, kerentanan di kawasan Timur Tengah, serta meningkatnya kelas baru dan kelompok tertentu,” imbuhnya lebih lanjut.

Pertanyaannya sekarang, lanjut Arskal, bagaimana perguruan tinggi mencetak sarjana yang mampu menjawab tantangan megatren fenomena global di atas. Sebab, revolusi industri 4.0 tidak hanya cukup dengan literasi lama, yaitu membaca, menulis, dan berhitung, sebagai modal dasar dalam berkiprah di masyarakat.

“Mesti mampu melahirkan lulusan yang lebih kompetitip, dengan kemampuan membaca, menganalisis, menggunakan informasi di dunia digital, memahami cara kerja mesin dan aplikasi teknologi, serta berkomunikasi dengan literasi baru di atas,” jelas Prof Arskal.

Maka, terang dia, kemampuan yang harus disiapkan untuk generasi hari ini adalah: interpersonal skills (keterampilan dari diri sendiri), communication skills (keterampilan berkomunikasi), technology skills, digital literacy, multi lingual literacy (kemampuan banyak bahasa), critical and creative thinking skills (memiliki daya kritis dan ide kreatif), dan problem solving skills (kemampuan mencari jalan keluar).

Dia pula mengibuhkan, juga sebagai sentral yang harus dimiliki, yaitu agama. Ia menegaskan, agama Islam sebagai landasan spiritual dan moral untuk membangun masyarakat yang berkeadaban. Juga menjadi sumber nilai, basis etika dan moralitas dalam membangun tatanan kehidupan.

“Ia juga menjadi sumber inspirasi dalam membangun harmoni sosial dalam kehidupan masyarakat yang majemuk. Serta menjadi kekuatan pendorong dan energi penggerak untuk merealisasikan peradaban masyarakat yang bermartabat,” imbuhnya memungkasi.

Acara wisuda angkatan pertama ini mengukuhkan dan menetapkan 142 wisudawan-wisudawati strata satu (S1) pada Program Studi Manajemen Pendidikan Islam (MPI) dan Pendidikan Guru Madrasah Ibtidaiyah (PGMI).

Acara sakral nan khidmat ini dihadiri Ketua Badan Pembina Yayasan Pondok Pesantren Hidayatullah Batam, Ustadz Jamaluddin Nur yang juga ketua dewan senat, Ketua Pengurus Yayasan, Ustadz Khoirul Amri, Ketua STIT HiBa, Ustadz Mohammad Ramli, dewan dosen, unsur organisasi DPW Hidayatullah Kepulauan Riau, unsur Muslimat Hidayatullah, para tamu pendamping, serta undangan lainnya.

Acara Sidang Senat Terbuka Sarjana S1 angkatan pertama ini juga sekaligus dirangkai dengan penugasan sarjana kader STIT Hidayatullah Batam. Ratusan kader sarjana tersebut akan ditugaskan untuk berkhidmat pada agama dan bangsa yang dikirim ke seluruh pelosok nusantara.*/Azhari

Show More

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Close
Close
×

Assalamu'alaikum.

Tanyakan sesuatu tentang STIT Hidayatullah Batam.

× Tanyakan Tentang Kami